Upacara dipimpin langsung Rektor UIN RIL Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D. selaku pembina upacara, dan diikuti dosen, tenaga kependidikan, serta tenaga keamanan yang mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN RIL membacakan amanat Menteri Agama RI Prof. KH. Dr. Nasaruddin Umar, M.A. Dalam amanatnya, Menag menekankan bahwa untuk mewujudkan visi besar Kementerian Agama, setiap ASN dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang agile, lincah dan sigap menghadapi perubahan, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif dalam melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Nilai-nilai ini sejatinya bukan hal baru, melainkan warisan luhur tradisi keagamaan yang perlu kita aktualkan kembali dalam konteks zaman,” demikian amanat Menteri Agama yang dibacakan Rektor.
Peringatan HAB ke-80 tahun ini mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju.” Tema tersebut menegaskan bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan energi kebangsaan.
“Kerukunan adalah sinergi yang produktif. Di sanalah perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dirajut menjadi kekuatan kolaboratif untuk mendorong kemajuan bangsa,” ujar Menag dalam amanatnya.
Dalam refleksi delapan dekade perjalanan Kementerian Agama, Menag menyampaikan bahwa Kemenag sejak awal didirikan sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Seiring perkembangan zaman, peran tersebut semakin luas dan krusial.
“Kini peran Kementerian Agama tidak hanya menjaga kehidupan beragama, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, merawat kerukunan berbasis cinta kemanusiaan, memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa,” tegasnya.
Menag juga menyoroti tantangan besar yang tengah dihadapi umat manusia, yakni perkembangan Artificial Intelligence (AI) di tengah era VUCA yaitu Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity.
Dalam situasi perubahan yang cepat, sulit diprediksi, dan penuh ketidakpastian, ASN Kementerian Agama diminta tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki kedaulatan dalam penguasaan dan pemanfaatan AI.
Ia menegaskan bahwa jika pada masa lalu ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai perkembangan AI.
“ASN Kementerian Agama harus menghadirkan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan. Kita harus memastikan algoritma masa depan tidak hampa dari nilai ketuhanan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menurut Menag, AI harus dikawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan. “AI jangan sampai menjadi pemicu disinformasi dan perpecahan,” tegasnya.
Menag mengajak seluruh ASN Kementerian Agama untuk menyatukan tekad sesuai tema HAB ke-80.
“Dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis Indonesia mampu melangkah menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, UIN RIL juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa berprestasi serta menyerahkan Satyalancana Karya Satya kepada 41 ASN UIN RIL yang telah mengabdi selama 10, 20, hingga 30 tahun.
Sebelumnya, dalam rangkaian peringatan HAB ke-80, Rektor UIN RIL bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung dan jajaran juga melaksanakan upacara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kedaton, Bandar Lampung, Jum’at (02/01/2026). (Nf/red)
