Aktivis Seni Ranau Tuangkan Kepedulian Lingkungan dalam Mural Doa

- Redaksi

Jumat, 12 Desember 2025 - 10:01 WIB

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Ranau, — Dari tepian Danau Ranau yang tenang, lahir sebuah doa yang dituangkan bukan lewat kata-kata, melainkan melalui goresan warna. Doa itu datang dari seorang seniman berbakat Ranau, Rahmad Saleh, yang mengabadikannya dalam sebuah lukisan mural bertajuk “Pray For Sumatera.”

Lukisan tersebut menjadi gambaran cinta sekaligus kepedihan: cinta akan kekayaan alam Sumatera yang megah, dan kepedihan melihatnya terluka oleh bencana. Melalui karya itu, Rahmad ingin menyampaikan pesan bahwa keindahan alam tidak hanya untuk ditatap, tetapi juga dijaga.

Rahmad bukan pelukis yang lahir dari ruang studio mewah. Ia tumbuh di Simpang Sender, Danau Ranau, tempat kabut pagi menyelimuti bukit, air danau berkilau memantulkan langit, dan hutan menyimpan cerita-cerita tua. Ia lahir pada 15 Februari 1986, dari lingkungan yang menghargai alam sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar pemandangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai anak Ranau, ia tumbuh dengan cerita para tetua tentang hutan larangan, ulu tulung (mata air), serta kawasan mesegik—tempat yang dianggap angker dan tak boleh dirusak. Nilai-nilai itu membentuk kesadaran ekologis Rahmad sejak kecil.

“Dulu nenek moyang kami menjaga alam dengan pantangan,” tuturnya. “Siapa yang melanggar, dipercaya akan kena tulah. Alam itu diberi hormat.”

Kini, ketika bencana menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kenangan masa kecil itu kembali menegur hatinya. Dari sanalah muncul keinginan untuk melukis doa—sebuah seruan agar manusia kembali menghormati alam.

Mural “Pray For Sumatera” ia buat di dinding Klinik dr. Gilang Kasuma Putra, Simpang Sender. Pada bidang dinding itu, Rahmad memadukan dua wajah Sumatera: keindahan yang pernah begitu megah, dan luka yang kini menganga.

Di satu sisi, ia melukiskan perbukitan hijau, pepohonan rimbun, aliran sungai jernih, dan langit bersih—simbol kekayaan alam Sumatera dari Ranau hingga Leuser, dari Semangko hingga Toba.

Namun di sisi lain, ia sisipkan bayang-bayang bencana: air bah yang meluap, langit muram, dan manusia-manusia kecil yang sedang berdoa.

Lukisan ini tidak hanya mengajak berempati pada korban bencana, tetapi juga mengingatkan bahwa alam yang rusak akan kembali melukai manusia.

Karya Rahmad tak lahir dari ruang yang kosong. Ia adalah mantan aktivis kampus dan aktivis seni. Masa mudanya banyak dihabiskan di Kelompok Studi Seni FKIP Universitas Lampung, Divisi Seni Rupa dan Sastra. Ia beberapa kali berpameran di Bandar Lampung pada 2006, 2007, 2008, dan 2010, menunjukkan ketekunan yang jarang dimiliki seniman muda.

Di dunia teater, ia pernah menjadi penata artistik Komunitas Berkat Yakin (KoBer) asuhan Ari Pahala Hutabarat, menggarap pementasan “Rashomon” (Lampung, Padang, Pekanbaru, Bengkulu), “Pinangan”, “King Lear” (Taman Ismail Marzuki, 2018), hingga “Nusantara Amnesia” dan “Dayang Rindu.”

Bakatnya di sastra pun terbukti ketika ia meraih Juara 1 Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017 melalui puisi “Hikayat Buang Tondjam.”

Selain seni, Rahmad adalah pendaki alam. Ia menyusuri Pesagi, Seminung, dan Bukit Barisan Selatan—wilayah yang kini perlahan rusak oleh illegal logging dan eksploitasi tak bertanggung jawab. Dari perjalanan itu, ia belajar bahwa alam yang indah tidak selamanya kuat.

Kesadaran itulah yang kemudian menyatu dalam karya-karyanya.

Melalui mural “Pray For Sumatera,” Rahmad ingin mengingatkan bahwa kekayaan alam Sumatera adalah anugerah yang tak ternilai. Dari Danau Ranau yang membentang sunyi, hutan Bukit Barisan yang megah, sampai dataran tinggi Gayo dan lembah Minangkabau—semuanya adalah bagian dari keindahan yang layak dijaga.

Lukisan itu menjadi doa sekaligus pesan:
bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan, saling menjaga, dan saling melukai bila tak saling peduli.

Dari seorang seniman Ranau yang dibesarkan alam, mengalir sebuah harapan sederhana namun mendalam:

Agar Sumatera kembali pulih—dan Indonesia kembali belajar mencintai alamnya.

Berita Terkait

Perkuat Sinergi, LP3H GP Ansor Lampung Gelar Rapat Koordinasi se-Provinsi
Berlakunya KUHP dan KUHAP BARU, 2 Januari 2026, dan Penerapan Asas Lex Favor Reo .
Navara City Park Imbau Pengunjung Tidak Membawa dan Nyalakan Petasan saat Malam Pergantian Tahun
Lawan Intoleransi, Gusdurian Lampung Bentuk Kader Kepemimpinan Muda
Navara City Park Resmi Dibuka, Banyak Pilihan Wahana dan Tempat Bersantai Keluarga
ASN Diimbau Bijak Bermedia Sosial Jaga Kondusivitas Lampung Barat
Aktivis Lampung Tantang Menhut Ungkap Ke Publik Soal Kapal Pengangkut Kayu Gelondongan Terdampar di Pesisir Barat
Dari Stigma “Kuno” ke Era Digital: Workshop Gambus Lunik Jembatan Mahasiswa dengan Budaya Lokal
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:47 WIB

Ketika Buku Menjadi Mimpi Terakhir: Tragedi YBR Membuka Tabir

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:34 WIB

Laksanakan Musrenbang Hybrid Parosil Mabsus Tegaskan Akses Menuju Lokasi Pendidikan Menjadi Skala Perioritas 2027

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:31 WIB

Hadiri Rakornas 2026, Bupati–Wakil Bupati Lampung Barat Tegaskan Siap Jalankan Arahan Presiden Prabowo

Selasa, 3 Februari 2026 - 12:10 WIB

LP Penipuan Suami Anggota DPRD Lamsel Naik Penyidikan, Polisi Diminta Tetapkan Tersangka

Selasa, 3 Februari 2026 - 08:44 WIB

Mobil Camat Sukau Terlibat Kecelakaan Pemotor Tewas

Jumat, 30 Januari 2026 - 08:28 WIB

Desa Rantau Jaya Udik Bangun Jalan Telford dan TPT, Kades Agus Saleh Dorong Pemerataan Infrastruktur

Kamis, 29 Januari 2026 - 20:06 WIB

Laskar Lampung Ajak Seluruh Institusi Kompak Jalankan InGub “Kamis Beradat”

Rabu, 28 Januari 2026 - 13:51 WIB

Wasekjend PP GP Ansor Apresiasi Pelatihan Paralegal LBH Ansor Lampung

Berita Terbaru

BERITA

Mobil Camat Sukau Terlibat Kecelakaan Pemotor Tewas

Selasa, 3 Feb 2026 - 08:44 WIB

Exit mobile version