Dari Stigma “Kuno” ke Era Digital: Workshop Gambus Lunik Jembatan Mahasiswa dengan Budaya Lokal

- Redaksi

Senin, 24 November 2025 - 07:10 WIB

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung, — Seni tradisi menghadapi tantangan besar di era digital, terutama di kalangan mahasiswa yang lebih akrab dengan media sosial dan hiburan modern. Untuk menghidupkan kembali minat mahasiswa terhadap budaya lokal, Universitas Saburai menggelar diskusi dan workshop Gambus Lunik, alat musik tradisi Lampung, pada 26-27 November 2025.

Ketua pelaksana diskusi dan workshop gambus lunik, Erwin Putubasai, menekankan pentingnya pelestarian seni tradisi. Ia mengatakan bahwa seni tradisi adalah ekspresi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu masyarakat, yang kemudian menjadi bagian dari identitas kelompok, suku atau bangsa.

“Melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Bengkulu & Lampung, Kementrian Kebudayaan mendukung upaya pelestarian kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat penggiat budaya dan seni dengan berbagai bentuk kegiatan. dan saya memandang bahwa mahasiswa adalah lahan yang potensial dalam upaya pelestarian tersebut,” ujarnya, minggu (23/11/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Erwin menambahkan, di era digital, mahasiswa cenderung mengekspresikan diri melalui media sosial, konten kreatif, atau seni urban. Mereka lebih tertarik pada musik modern, film internasional, atau konten digital yang dianggap lebih gaul dan relate dengan keseharian mereka.

Kondisi ini menyebabkan seni tradisi dianggap kuno, sulit dipahami, rumit, dan tidak praktis, sehingga panggung seni tradisi dikampus sangat jarang terlihat.

“Minat terhadap seni tradisi di kalangan mahasiswa menurun, akibatnya omunitas seni tradisi kesulitan merekrut anggota baru karena dianggap tidak menarik dibandingkan komunitas modern seperti band, dance cover, atau film,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Erwin mengungkapkan bahwa seni tradisi menghadapi tantangan besar di era kekinian. Upaya pelestarian tradisi harus berhadapan dengan stigma sebagai sesuatu yang kuno, tidak praktis, dan kurang diminati. Namun, di balik itu, seni tradisi menyimpan kekayaan identitas bangsa yang berisiko hilang jika tidak ada upaya serius untuk menghidupkannya kembali.

Seni tradisi bisa dikemas ulang melalui live streaming, konten media sosial, atau kolaborasi dengan musik elektronik, sehingga mahasiswa melihat seni tradisi sebagai bagian dari dunia digital mereka.

“Seni tradisi perlu dijelaskan dengan cara yang sederhana. Cerita di balik tarian atau musik tradisi bisa dikaitkan dengan isu kekinian, yang relevan dengan kehidupan mereka. Memberikan ruang kepada mahasiswa yang aktif di media sosial untuk menjadi influencer yang dapat membantu memperluas jangkauan,” kata Erwin.

Sementara itu, Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Universitas Saburai, Agung AR Carapeboka, menegaskan pentingnya kegiatan workshop gambus lunik bagi generasi muda, khususnya mahasiswa.

“untuk menghidupkan komunitas dan seni tradisi di kampus, saya memandang kegiatan diskusi yang mengusung tema Seni Tradisi dan Mahasiswa di Era Kekinian serta workshop Gambus lunik, sebagai alat musik tradisi warisan budaya lampung, perlu dilaksanakan di kampus Sabura,” ujar Agung.

Mahasiswa bukan hanya sekedar penonton, tetapi juga kreator yang menjadikan seni tradisi relevan di era digital, dan media massa adalah salah satu unsur yang dapat membuat informasi seni tradisi tersebut masif.

Diskusi dan workshop Gambus Lunik akan diikuti perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa Seni dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Universitas Saburai, UBL, Polinela, UMITRA, Malahayati, Teknokrat, Darmajaya, Komunitas Selira, ITERA, dan Unila.

Narasumber kegiatan terdiri dari Ari Pahala Hutabarat (seniman & budayawan), Ahmad Bastari (wartawan senior), dan Editya Rio Wirawan (komposer), dengan moderator Alexander GB. Kegiatan akan berlangsung di Gedung Graha Universitas Saburai Lantai III pada tanggal 26-27 November 2025.

Berita Terkait

Perkuat Sinergi, LP3H GP Ansor Lampung Gelar Rapat Koordinasi se-Provinsi
Berlakunya KUHP dan KUHAP BARU, 2 Januari 2026, dan Penerapan Asas Lex Favor Reo .
Navara City Park Imbau Pengunjung Tidak Membawa dan Nyalakan Petasan saat Malam Pergantian Tahun
Lawan Intoleransi, Gusdurian Lampung Bentuk Kader Kepemimpinan Muda
Navara City Park Resmi Dibuka, Banyak Pilihan Wahana dan Tempat Bersantai Keluarga
ASN Diimbau Bijak Bermedia Sosial Jaga Kondusivitas Lampung Barat
Aktivis Seni Ranau Tuangkan Kepedulian Lingkungan dalam Mural Doa
Aktivis Lampung Tantang Menhut Ungkap Ke Publik Soal Kapal Pengangkut Kayu Gelondongan Terdampar di Pesisir Barat
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 06:00 WIB

Pemprov Lampung Kaji Dampak Lingkungan Tambang di Way Kanan

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:46 WIB

Pemprov Lampung Bahas Penyelesaian Aset Daerah Jelang Monitoring KPK 2026

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:52 WIB

Gubernur Lampung Lepas Brigjen Haryantana yang Dimutasi Jadi Kasdam XVII/Cendrawasih

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:34 WIB

Pemprov Lampung apresiasi 4 siswa penemu celah keamanan pada situs NASA

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:29 WIB

Gubernur Lampung: Miliki kemandirian fiskal dengan optimalisasi PAD

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:23 WIB

Lampung sediakan mudik gratis dalam daerah menggunakan bus

Selasa, 10 Maret 2026 - 05:15 WIB

Pemprov Lampung Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Jelang Lebaran

Senin, 9 Maret 2026 - 05:12 WIB

TP PKK Provinsi Lampung Hadir di Tengah Masyarakat, Salurkan Bantuan Sosial dan Dukungan Gizi Anak

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Rumah Film KPI Putar Perdana Karya Film ‘Teguh’

Minggu, 15 Mar 2026 - 17:37 WIB

PEMERINTAHAN

Pemprov Lampung Kaji Dampak Lingkungan Tambang di Way Kanan

Sabtu, 14 Mar 2026 - 06:00 WIB

Exit mobile version