Ketika Buku Menjadi Mimpi Terakhir: Tragedi YBR Membuka Tabir

- Redaksi

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Refky Rinaldy, S.Sos (Tukang Tulis)

Sebuah Renungan untuk Bangsa

Pada Rabu siang, sekitar pukul 12:30 WITA, langit Indonesia kembali berselimut duka. Di sebuah sudut terpencil negeri ini tepatnya di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBR memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak seharusnya pernah terlintas dalam benak seorang bocah seusianya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

YBR, siswa kelas IV Sekolah Dasar itu, meninggalkan selembar surat yang ditulis dengan tinta kesedihan mendalam untuk sang ibu :

“Kertas Tii Mama Reti (Surat Untuk Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama Pelit Sekali)

Mama Molo Ja’o Galo Mata Mae Rita Ee Mama (Mama Baik Sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis) 

Mama jao Galo mata mae woe Rita ee gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo mama (selamat tinggal mama)”

Kata-kata itu bukan sekadar pesan perpisahan. Ia adalah tangisan hati seorang anak yang merasa menjadi beban, yang menganggap ketidakmampuan membeli buku adalah aib yang harus ditebus dengan nyawa. Betapa tragisnya, ketika pendidikan yang seharusnya menjadi jembatan harapan justru menjadi jurang pemisah antara hidup dan mati seorang anak bangsa.

Api Kemiskinan yang Tak Kunjung Padam

Tragedi YBR bukan sekadar peristiwa individual. Ia adalah alarm keras yang memekakkan telinga, simbol kegagalan kolektif kita sebagai bangsa. Di balik kematian YBR, terbentang narasi kelam tentang kemiskinan struktural yang belum terhempas, tentang kesenjangan pendidikan yang masih menganga lebar, dan tentang ribuan anak Indonesia lainnya yang mungkin sedang berjuang dalam kesunyian serupa.

Baca juga:  Partinia Minta Guru Paud Lampung Barat Utamakan Pendidikan Moral dan Etika

Bagaimana mungkin, di negara yang mengklaim telah merdeka selama hampir delapan dekade, seorang anak usia 10 tahun harus memilih mati karena tidak mampu membeli buku? Bagaimana mungkin sistem pendidikan kita membiarkan seorang siswa merasa begitu terpojok hingga bunuh diri menjadi satu-satunya jalan keluar yang ia lihat?

Pertanyaan-pertanyaan ini menohok. Dan jawaban atas pertanyaan ini tidak boleh lagi ditunda.

Pesan untuk Lampung, Cermin untuk Indonesia

Saya, Refky Rinaldy, berbicara bukan dari menara gading kekuasaan. Saya bukan pejabat, bukan keturunan elit. Saya hanyalah warga biasa dari Tanah Lampung yang merasakan pedih yang sama dengan jutaan rakyat Indonesia lainnya ketika mendengar berita ini.

Kepada seluruh unsur pemerintahan, dari tingkat Kabupaten, Kota, hingga Provinsi Lampung, izinkan saya mengajak kita semua untuk merenung sejenak. Lihatlah YBR. Dengarkan tangisannya yang tertuang dalam surat perpisahan itu. Jadikan tragedi ini sebagai cermin untuk memeriksa kembali, apakah di Lampung, di kampung-kampung terpencil kita, ada YBR-YBR lain yang sedang berjuang dalam sunyi?

Jangan anggap ini sebagai kejadian jauh yang tak ada kaitannya dengan kita. Kemiskinan tidak mengenal batas administratif. Penderitaan anak-anak tidak memilih geografis. Apa yang terjadi di NTT hari ini bisa saja terjadi di Lampung besok, jika kita tidak segera bergerak dengan hati nurani yang terjaga.

Baca juga:  Kamis Beradat Resmi Berlaku di Lampung, Bahasa Daerah dan Batik Jadi Identitas

YBR: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Izinkan saya menyebut YBR sebagai pahlawan. Bukan karena kematiannya, tetapi karena melalui tragedi yang menimpanya, ia telah memaksa kita semua untuk membuka mata. YBR adalah pengingat bahwa di balik statistik kemiskinan dan angka putus sekolah, ada wajah-wajah anak dengan mimpi yang sama besarnya dengan anak-anak lain, tetapi dengan kesempatan yang jauh lebih sempit.

Kematian YBR haruslah menjadi titik balik. Ia harus menjadi katalisator bagi perubahan nyata dalam kebijakan pendidikan dan kesejahteraan anak. Tidak boleh ada lagi anak yang merasa bahwa ketidakmampuan membeli buku adalah alasan untuk mengakhiri hidup. Tidak boleh ada lagi anak yang merasa menjadi beban hanya karena keluarganya miskin.

Seruan untuk Bertindak

Kepada para Kepala Daerah, Legislator, dan seluruh Aparatur Pemerintahan di Lampung dan Indonesia:

Periksalah kembali sistem bantuan pendidikan di daerah Anda. Pastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang terhambat aksesnya terhadap pendidikan karena alasan ekonomi. Program-program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan berbagai skema kesejahteraan lainnya harus benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan, bukan hanya tertulis di laporan, tetapi nyata di lapangan.

Bentuklah sistem deteksi dini untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko mengalami tekanan psikologis akibat kondisi ekonomi. Libatkan guru, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam jejaring pengawasan yang penuh kasih sayang, bukan pengawasan yang menghakimi.

Baca juga:  Pemprov Lampung Perkuat Mitigasi Bencana Megathrust Melalui Kolaborasi Lintas Sektor

Bekerjanlah dengan hati, bukan hanya dengan angka. Kesejahteraan rakyat bukan sekadar capaian indeks atau ranking. Ia adalah tentang memastikan setiap anak bisa tidur nyenyak tanpa beban, bangun pagi dengan harapan, dan pergi ke sekolah dengan senyuman.

Doa untuk YBR, Janji untuk yang Hidup

YBR, di mana pun engkau berada saat ini, semoga Tuhan Yang Maha Pengasih mengampuni segala dosa dan khilafmu. Semoga engkau menemukan kedamaian yang tak pernah engkau temukan di dunia ini. Jasadmu mungkin telah tiada, tetapi pesan yang engkau tinggalkan akan terus bergema, menggugah nurani bangsa ini.

Untuk kita yang masih hidup, tragedi YBR adalah amanah. Amanah untuk memastikan tidak ada lagi anak yang mengalami nasib serupa. Amanah untuk membangun Indonesia yang lebih adil, lebih peduli, lebih manusiawi.

Mari kita jadikan duka ini sebagai energi perubahan. Mari kita wujudkan Indonesia di mana setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonominya, memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, belajar, dan tumbuh menjadi manusia seutuhnya.

Tulisan ini lahir bukan dari keinginan untuk menggurui, melainkan dari kepedulian seorang warga negara yang tidak ingin melihat tragedi serupa terulang. Jika ada kata-kata yang keliru atau menyinggung, saya mohon maaf. Yang saya tulis adalah apa yang saya rasakan—sebagai manusia, sebagai anak bangsa, sebagai sesama yang peduli.

Berita Terkait

KemenHAM Siaga Bakauheni: Penta Peturun Ungkap Jam Rawan dan Rekomendasikan Dini Hari untuk Menyeberang
Rektor UIN RIL Lantik Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, Dekan, Ketua Lembaga, dan Kepala SPI Periode 2026-2030
Melalui Inovasi Program Pendidikan, Pemkab Lambar Komitmen Bangun Kualitas SDM
Jelang Buka Puasa, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Lampung Selatan Yuti Rama Yanti Bagikan Takjil ke Masyarakat di Kecamatan Palas
Dukung Gubernur Mirza Soal “Good Governance”, BRIM 08 Bakal Ungkap Dugaan Praktik KKN dan Setoran Proyek di Dinas PKPCK
Kasus Dugaan Pemerasan Oknum LSM Terungkap di Sidang, Saksi: Terdakwa Tak Pernah Minta Uang
Ciptakan Inovasi dan Terobosan, Disdikbud Lampung Barat Tunjukan Capaian Positif
“Bukber”, Rektor Ajak Civitas Akademika UIN RIL Bangun Kebersamaan dengan Semangat Ber-ISI
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 06:00 WIB

Pemprov Lampung Kaji Dampak Lingkungan Tambang di Way Kanan

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:46 WIB

Pemprov Lampung Bahas Penyelesaian Aset Daerah Jelang Monitoring KPK 2026

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:52 WIB

Gubernur Lampung Lepas Brigjen Haryantana yang Dimutasi Jadi Kasdam XVII/Cendrawasih

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:34 WIB

Pemprov Lampung apresiasi 4 siswa penemu celah keamanan pada situs NASA

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:29 WIB

Gubernur Lampung: Miliki kemandirian fiskal dengan optimalisasi PAD

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:23 WIB

Lampung sediakan mudik gratis dalam daerah menggunakan bus

Selasa, 10 Maret 2026 - 05:15 WIB

Pemprov Lampung Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Jelang Lebaran

Senin, 9 Maret 2026 - 05:12 WIB

TP PKK Provinsi Lampung Hadir di Tengah Masyarakat, Salurkan Bantuan Sosial dan Dukungan Gizi Anak

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Rumah Film KPI Putar Perdana Karya Film ‘Teguh’

Minggu, 15 Mar 2026 - 17:37 WIB

PEMERINTAHAN

Pemprov Lampung Kaji Dampak Lingkungan Tambang di Way Kanan

Sabtu, 14 Mar 2026 - 06:00 WIB