Kegiatan Shodaqoh Oksigen – Penanaman Mangrove yang diinisiasi oleh PMII bersama NU Care-Lazisnu dan kolaborasi dengan beberapa komunitas serta masyarakat di Desa Tridharmayoga, Ketapang, Lampung Selatan, Kamis (25/12), berlangsung dengan penuh semangat kepedulian terhadap lingkungan pesisir.
Namun, di balik terselenggaranya kegiatan tersebut, PC PMII Lampung Selatan menyayangkan sikap abai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lampung Selatan dalam kegiatan penanaman mangrove.
Mengusung tema “Taubat Ekoteologi Warga Nahdliyin: Merawat Alam untuk Masa Depan Peradaban”, kegiatan ini merupakan wujud nyata peran pemuda dan masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove. Ironisnya, kegiatan yang secara langsung berkaitan dengan isu lingkungan hidup justru tidak mendapat dukungan maupun kehadiran dari DLH Lampung Selatan sebagai instansi teknis yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap pelestarian lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketidakhadiran dan ketidak pedulian DLH Lampung Selatan dinilai mencerminkan lemahnya sensitivitas pemerintah daerah terhadap gerakan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. Padahal, sinergi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis ekologis, khususnya kerusakan kawasan pesisir yang terus meningkat di Lampung Selatan.
Ketua Cabang PMII Lampung Selatan, Nico Mardana, menyampaikan kekecewaannya atas absennya peran DLH Lampung Selatan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, penanaman mangrove bukan sekadar aksi simbolik, melainkan aksi nyata,bagian dari ikhtiar moral dan ekologis yang berkelanjutan.
“Kami sangat menyayangkan ketidak hadiran dan minimnya perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup Lampung Selatan. Ketika pemuda dan masyarakat bergerak secara swadaya untuk merawat alam, seharusnya pemerintah hadir memberi dukungan, pendampingan, dan penguatan kebijakan, bukan justru abai,” tegas Nico Mardana.

Ia menambahkan bahwa PMII Lampung Selatan akan terus konsisten mengawal isu lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab moral kader pergerakan. Nico juga menegaskan bahwa negara tidak boleh lepas tangan dalam urusan ekologis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir.
“Merawat lingkungan adalah amanat konstitusi dan nilai keislaman. Ketidakpedulian terhadap krisis ekologis hari ini sama saja dengan menggadaikan masa depan generasi mendatang,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, PC PMII Lampung selatan berharap DLH Lampung Selatan ke depan dapat bersikap lebih terbuka, responsif, dan kolaboratif terhadap inisiatif pemuda dan masyarakat. Kehadiran pemerintah daerah dinilai penting agar upaya pelestarian lingkungan tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi gerakan bersama yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kegiatan Shodaqoh Oksigen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap alam harus dimulai dari kesadaran kolektif. Namun demikian, tanggung jawab negara dalam menjaga lingkungan hidup tetap menjadi hal yang tidak bisa dinegosiasikan.








