Krisis Budaya Literasi di Kampus – “Salah Zaman Atau Sistem ???”

- Redaksi

Minggu, 10 Agustus 2025 - 12:24 WIB

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Krisis Literasi di Kampus: Ketika Mahasiswa Kehilangan Esensi Intelektualnya

Fenomena memudarnya budaya membaca, menulis, dan berdiskusi di kalangan mahasiswa Indonesia telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Generasi yang seharusnya menjadi ujung tombak intelektual bangsa kini terperangkap dalam pragmatisme sempit yang mengikis fondasi akademik mereka.

Membaca: Dari Buku Tebal ke Caption Singkat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mahasiswa hari ini lebih nyaman mengonsumsi informasi dalam bentuk ringkasan, video pendek, atau infografis ketimbang mendalami teks utuh. Mereka mengira bahwa membaca abstrak jurnal sudah cukup untuk memahami kompleksitas sebuah penelitian, atau mengandalkan review YouTube untuk “memahami” karya sastra klasik. Budaya instan ini menciptakan pemahaman yang dangkal dan fragmentaris, jauh dari kedalaman analitis yang dibutuhkan seorang sarjana.

Ironisnya, akses terhadap sumber bacaan justru semakin mudah dengan digitalisasi perpustakaan dan jurnal online. Namun kemudahan ini tidak diimbangi dengan motivasi untuk membaca secara mendalam. Mahasiswa lebih memilih shortcut daripada menikmati proses pembelajaran yang sesungguhnya.

Menulis: Kehilangan Suara Intelektual

Keterampilan menulis mahasiswa juga mengalami degradasi serius. Mereka terbiasa berkomunikasi dengan bahasa kasual media sosial hingga kesulitan menyusun argumen akademik yang koheren. Tulisan-tulisan mereka cenderung repetitif, minim analisis kritis, dan seringkali hanya menjadi kompilasi copypaste dari berbagai sumber tanpa sintesis yang bermakna.

Budaya plagiarisme yang mengakar memperburuk situasi ini. Mahasiswa lebih fokus pada hasil instan ketimbang proses berpikir yang menghasilkan karya orisinal. Mereka lupa bahwa menulis adalah proses pembelajaran itu sendiri, bukan sekadar formalitas akademik.

Berdiskusi: Monolog di Era Dialog

Ruang diskusi yang seharusnya menjadi laboratorium pemikiran kini berubah menjadi ajang adu argumen tanpa substansi. Mahasiswa enggan mendengarkan perspektif berbeda, lebih suka echo chamber yang mengkonfirmasi bias mereka. Diskusi akademik yang berkualitas membutuhkan kemampuan untuk mempertanyakan asumsi, mengakui keterbatasan argumen sendiri, dan membangun pemikiran secara kolektif – semua ini tampak menghilang.

Media sosial memperburuk kondisi ini dengan menciptakan ilusi bahwa like dan share adalah indikator validitas argumen. Kompleksitas isu-isu sosial direduksi menjadi statement hitam-putih yang mudah dicerna massa.

Dampak Sistemik: Melemahnya Fungsi Universitas

Krisis ini bukan sekadar masalah individual, tetapi mengancam fungsi universitas sebagai pusat pencerahan. Bagaimana universitas bisa melahirkan pemimpin yang visioner, peneliti yang inovatif, atau intelektual yang kritis jika mahasiswanya tidak memiliki fondasi literasi yang solid?

Dosen pun terjebak dalam dilema: menurunkan standar demi mengakomodasi kemampuan mahasiswa, atau mempertahankan standar tinggi dengan risiko tingginya tingkat kegagalan. Banyak yang memilih jalan tengah yang justru merugikan semua pihak.

Refleksi Kritis: Tanggung Jawab Bersama

Tentu saja, fenomena ini tidak terjadi dalam vakum. Sistem pendidikan yang menekankan hafalan daripada pemahaman, tekanan ekonomi yang memaksa mahasiswa bekerja sambil kuliah, dan budaya konsumtif yang mengutamakan gratifikasi instan semuanya berkontribusi pada krisis ini.

Namun, mahasiswa sebagai subjek dewasa tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Mereka memiliki agency untuk memilih apakah akan menjadi konsumen pasif atau intelektual aktif yang berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan.

Universitas perlu kembali menegaskan misinya sebagai institusi pembelajaran, bukan sekadar pencetak ijazah. Mahasiswa pun harus menyadari bahwa gelar tanpa kemampuan berpikir kritis hanyalah kertas kosong di era yang menuntut adaptabilitas dan inovasi berkelanjutan.

Masa depan bangsa bergantung pada kemampuan generasi mudanya untuk berpikir mendalam, bukan sekadar mereaksi secara reaktif terhadap perubahan zaman.

Berita Terkait

Ultimatum Laskar Lampung: Polda Jangan Main-Main, Kasus 387 Honorer Metro Diduga Kejahatan Terstruktur
Ketika Buku Menjadi Mimpi Terakhir: Tragedi YBR Membuka Tabir
Laksanakan Musrenbang Hybrid Parosil Mabsus Tegaskan Akses Menuju Lokasi Pendidikan Menjadi Skala Perioritas 2027
Hadiri Rakornas 2026, Bupati–Wakil Bupati Lampung Barat Tegaskan Siap Jalankan Arahan Presiden Prabowo
LP Penipuan Suami Anggota DPRD Lamsel Naik Penyidikan, Polisi Diminta Tetapkan Tersangka
Mobil Camat Sukau Terlibat Kecelakaan Pemotor Tewas
Bupati Lampung Barat Tegaskan Komitmen Lestarikan Seni Budaya di Era Digital
Desa Rantau Jaya Udik Bangun Jalan Telford dan TPT, Kades Agus Saleh Dorong Pemerataan Infrastruktur
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:57 WIB

Ultimatum Laskar Lampung: Polda Jangan Main-Main, Kasus 387 Honorer Metro Diduga Kejahatan Terstruktur

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:47 WIB

Ketika Buku Menjadi Mimpi Terakhir: Tragedi YBR Membuka Tabir

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:34 WIB

Laksanakan Musrenbang Hybrid Parosil Mabsus Tegaskan Akses Menuju Lokasi Pendidikan Menjadi Skala Perioritas 2027

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:31 WIB

Hadiri Rakornas 2026, Bupati–Wakil Bupati Lampung Barat Tegaskan Siap Jalankan Arahan Presiden Prabowo

Selasa, 3 Februari 2026 - 12:10 WIB

LP Penipuan Suami Anggota DPRD Lamsel Naik Penyidikan, Polisi Diminta Tetapkan Tersangka

Minggu, 1 Februari 2026 - 08:24 WIB

Bupati Lampung Barat Tegaskan Komitmen Lestarikan Seni Budaya di Era Digital

Jumat, 30 Januari 2026 - 08:28 WIB

Desa Rantau Jaya Udik Bangun Jalan Telford dan TPT, Kades Agus Saleh Dorong Pemerataan Infrastruktur

Kamis, 29 Januari 2026 - 20:06 WIB

Laskar Lampung Ajak Seluruh Institusi Kompak Jalankan InGub “Kamis Beradat”

Berita Terbaru

Exit mobile version