UIN Raden Intan Lampung Siap Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta

- Redaksi

Rabu, 10 September 2025 - 07:36 WIB

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) melalui Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama RI sosialisasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pusiban, Kotabumi Selatan, Lampung Utara, Selasa (9/9/2025), sebagai salah satu langkah penerapan KBC.

Direktur KSKK Madrasah Ditjen Pendis, Prof. Dr. Hj. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si., memaparkan pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai bagian dari upaya membentuk karakter generasi masa depan. Hal ini disampaikan langsung pada sosialisasi tersebut.

Menurutnya, KBC merupakan gagasan yang lahir dari kegelisahan Menteri Agama atas dua persoalan besar bangsa saat ini, yakni krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prof. Nyayu menjelaskan, krisis kemanusiaan menjadi perhatian serius karena nilai-nilai kemanusiaan mulai terkikis. Ia mencontohkan konflik, diskriminasi, hingga kasus kekerasan dan perundungan yang bahkan terjadi di tingkat madrasah. Kondisi ini, kata dia, menjadi sumber keresahan Menteri Agama.

“KBC ini genuine dari Menag sebagai harapan bagi generasi muda, khususnya siswa madrasah. Harapannya, pada 2045 mereka bisa menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas sosial dan emosional,” ujarnya.

Selain itu, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah juga menjadi latar belakang penting lahirnya KBC. Menurutnya, bencana alam yang semakin sering terjadi sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia yang kehilangan rasa cinta dan empati terhadap alam. “Karena tidak ada nilai cinta di dalam hati, manusia tak lagi memandang alam dan sesama makhluk hidup dengan kasih sayang,” jelasnya.

Dalam paparannya, Prof. Nyayu menekankan bahwa inti ajaran agama adalah cinta. Ia mengutip makna mendasar dari Al-Qur’an. “Al-Fatihah diperas menjadi Bismillahirrahmanirrahim, dan jika diperas lagi intinya adalah Ar-Rahman, yakni cinta dan kasih sayang,” ucapnya.

Ia menambahkan, guru agama memiliki peran besar dalam menanamkan nilai cinta ini agar pembelajaran tidak hanya sekadar indoktrinasi, tetapi membentuk karakter religius.

KBC yang digagas Kementerian Agama merumuskan Panca Cinta di antaranya, cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu pengetahuan, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air.

Ia menjelaskan, kelima nilai ini sudah termaktub dalam ajaran agama. Namun, praktik pendidikan agama selama ini cenderung berorientasi pada indoktrinasi semata, bukan pembentukan karakter religius.
Ia kemudian menguraikan lima dimensi religiusitas yang menjadi tolok ukur seseorang beragama secara utuh. Pertama, dimensi keimanan, yakni keyakinan dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan diwujudkan lewat perbuatan. Kedua, dimensi pengetahuan, sebab beriman saja tidak cukup tanpa pemahaman yang memadai. Ketiga, dimensi penghayatan atau spiritual, yakni sejauh mana seseorang benar-benar menginternalisasi apa yang ia ketahui. Keempat, dimensi peribadatan, yang tampak dari pelaksanaan shalat, zakat, dan ibadah lainnya. Kelima, dimensi pengamalan, yakni perilaku sehari-hari yang mencerminkan dirinya sebagai seorang yang beragama.
“Sayangnya, guru agama saat ini umumnya hanya menyentuh tiga dimensi, sementara dimensi penghayatan sering kali tidak tersentuh,” ujar Prof. Nyayu. Karena itu, menurutnya, KBC merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk disampaikan.
Menurutnya, keberhasilan KBC tidak hanya ditentukan oleh guru agama, tetapi juga seluruh warga madrasah. Kepala sekolah, guru mata pelajaran lain, hingga tenaga kependidikan seperti penjaga sekolah dan petugas kebersihan, semuanya memiliki peran.

“KBC tidak dimaksudkan mengganti kurikulum nasional, melainkan mengisi ruang kosong dalam aspek emosional. Guru yang baik adalah yang memperlakukan peserta didik layaknya anaknya sendiri, penuh empati, toleran, inklusif, dan penuh kasih sayang,” pungkasnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan KBC bukan diukur dari nilai akademik, melainkan dari tiga ciri utama, yaitu terwujudnya madrasah ramah lingkungan, madrasah ramah anak, serta terciptanya kesejahteraan siswa, baik secara mental maupun spiritual.

“KBC adalah cita-cita besar. Inisiasi ini lahir dari cinta Menteri Agama untuk anak-anak Indonesia, disusun dengan cinta, dan semoga diimplementasikan dengan cinta pula,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor III UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Idrus Ruslan, M.Ag., dalam sambutannya menyambut baik hadirnya KBC sebagai bagian dari upaya menyiapkan pemimpin masa depan. Ia menyampaikan bahwa UIN Raden Intan Lampung siap menerapkan KBC ini.

Prof. Idrus menekankan bahwa keberagaman etnis, budaya, dan agama adalah ciptaan Yang Maha Kuasa yang harus dihargai. “Melalui KBC, kita berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama, sekalipun berbeda latar belakang,” ungkapnya.

Sosialisasi KBC ini juga menghadirkan Tim Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si., dan Dr. Rusman, M.Pd., sebagai narasumber. Kegiatan diikuti oleh 250 guru madrasah dan pondok pesantren dari Lampung Utara.

Berita Terkait

Sinergi Putera Daerah: Lampung Preneur Hub Perkuat Basis Kebijakan Ekonomi Bersama Zulkifli Hasan
Pesta Rakyat Meriah, tapi Warga Lampung Timur Tanya: Kapan Jalan Diperbaiki dan Siltap Dibayar?
GRL Way Kanan Perkuat Pembinaan Atlet Muda Lewat KAKIMAL Cup 2026
Tambah Armada dan Tank Container, DLH Bandar Lampung Perkuat Pengelolaan Sampah 2026
INFORMASI KEHILANGAN
DPC Laskar Lampung Indonesia dan Holland Bakery Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Bandar Lampung
Mekhanai Kebandakhan Tjindar Bumi Raih Predikat Mekhanai Intelegensia pada Grand Final Muli Mekhanai Lampung Selatan
Waspadai El Nino 2026, Pemprov Lampung Matangkan Strategi Mitigasi Terpadu
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:45 WIB

Relawan Gesit Lampung Rayakan Milad Pertama dengan Family Gathering di Pantai Cakra Pesawaran

Senin, 27 April 2026 - 11:46 WIB

Sinergi Putera Daerah: Lampung Preneur Hub Perkuat Basis Kebijakan Ekonomi Bersama Zulkifli Hasan

Minggu, 26 April 2026 - 16:28 WIB

Pesta Rakyat Meriah, tapi Warga Lampung Timur Tanya: Kapan Jalan Diperbaiki dan Siltap Dibayar?

Sabtu, 25 April 2026 - 15:35 WIB

GRL Way Kanan Perkuat Pembinaan Atlet Muda Lewat KAKIMAL Cup 2026

Jumat, 24 April 2026 - 16:59 WIB

Tambah Armada dan Tank Container, DLH Bandar Lampung Perkuat Pengelolaan Sampah 2026

Kamis, 16 April 2026 - 06:42 WIB

INFORMASI KEHILANGAN

Rabu, 15 April 2026 - 06:47 WIB

DPC Laskar Lampung Indonesia dan Holland Bakery Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Bandar Lampung

Sabtu, 11 April 2026 - 06:43 WIB

Mekhanai Kebandakhan Tjindar Bumi Raih Predikat Mekhanai Intelegensia pada Grand Final Muli Mekhanai Lampung Selatan

Berita Terbaru

POLITIK

UU PRT: Akhir Penantian Dua Dekade yang Belum Usai

Selasa, 28 Apr 2026 - 11:41 WIB

Exit mobile version