Ironi Harga Gabah, Komisi II DPRD Lampung Siap Galakkan Program Petani Milenial

- Redaksi

Rabu, 16 April 2025 - 05:05 WIB

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung – Polemik harga jual gabah petani di Provinsi Lampung yang berada di bawah ketetapan pemerintah menjadi sorotan publik.

Meski pemerintah pusat telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram, realita di lapangan justru berbeda.

Banyak petani mengeluhkan harga jual gabah yang hanya dibeli oleh tengkulak dan pengusaha dengan harga berkisar antara Rp 5.200 hingga Rp 6.000 per kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini diperparah dengan keluhan soal sistem pembayaran dari Bulog yang disebut dilakukan bertahap hingga dua sampai tiga kali, sehingga menyulitkan petani.

Untuk mengupas persoalan ini lebih dalam, Tribun Lampung berkesempatan menghadirkan anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung Fatikhatul Khoiriyah dalam wawancara eksklusif, Selasa (15/4/2025).

Apa penyebab harga gabah petani di Lampung jauh di bawah HPP?

Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan kuota penyerapan gabah oleh Bulog, yang hanya diberi alokasi sekitar 20 persen dari total hasil panen di Lampung.

Hal ini menyebabkan gabah petani tidak tertampung maksimal, sehingga petani terpaksa menjual ke tengkulak dengan harga di bawah standar.

Selain itu, Pergub Lampung Nomor 7 Tahun 2017 yang mengatur larangan penjualan gabah keluar daerah tanpa pengolahan di Lampung juga menjadi kendala.

Regulasi ini membuat pasar gabah menjadi terbatas, sementara produksi petani terus meningkat. 

Kami di DPRD akan mendorong Bulog menambah kuota pembelian gabah petani dan melakukan kajian ulang terhadap pergub tersebut agar lebih adaptif dengan kondisi di lapangan.

Bagaimana langkah pengawasan yang telah dilakukan oleh DPRD?

Kami di DPRD sudah menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama Dinas Pertanian, Bulog, serta Perpadi untuk mencari solusi atas persoalan ini.

Kami menegaskan agar tidak ada lagi praktik tengkulak yang membeli gabah di bawah harga yang ditetapkan pemerintah. 

Pengawasan di lapangan akan kami intensifkan, termasuk mendorong Dinas Perdagangan dan Satgas Pangan untuk ikut mengawasi.

Apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membantu petani?

Pemerintah melalui dinas terkait telah menyalurkan bantuan alat pertanian, seperti alat pengering (dryer) dan mesin untuk memproses gabah, meski memang distribusinya belum merata.

Kami berharap dengan bantuan alat pertanian ini, kualitas gabah yang dihasilkan bisa lebih baik dan harga jualnya bisa bersaing.

Bagaimana cara meningkatkan hasil panen sekaligus memperbaiki posisi tawar petani?

Salah satu upaya yang harus terus digalakkan adalah mendorong program petani milenial.

Saya optimis, dengan semangat dan keterlibatan generasi muda, Lampung bisa menjadi pusat produksi pangan yang tangguh.

Apalagi dengan harga gabah yang seharusnya bisa stabil di Rp 6.500, ini menjadi peluang bagi anak muda untuk tertarik mengembangkan pertanian.

Solusi jangka pendek dan jangka panjang seperti apa yang Anda tawarkan agar petani tidak terus dirugikan?

Dalam jangka pendek, pemerintah harus memperkuat serapan gabah melalui Bulog dan mempermudah akses pembiayaan bagi petani, termasuk kemudahan modal usaha saat musim tanam dan panen.

Sedangkan dalam jangka panjang, saya mendorong penguatan koperasi tani yang bisa menjadi jembatan antara petani dengan pasar tanpa perantara tengkulak.

Selain itu, digitalisasi harga juga sangat penting, agar petani bisa memantau harga gabah secara real-time dan tidak mudah dimanfaatkan oleh tengkulak yang bermain harga.

Sebagai informasi, Lampung sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Sumatera mencatatkan luas lahan sawah mencapai 531.720 hektare dengan estimasi produksi gabah kering panen (GKP) tahun 2024 sebesar 2,79 juta ton.

Sayangnya, di balik angka produksi yang tinggi, nasib petani masih dirundung ironi.

Harga gabah di tingkat petani kerap jauh di bawah HPP, di mana saat ini petani mengaku hanya mendapatkan bayaran sekitar Rp 5.400 per kilogram jauh dari harapan. l

Berita Terkait

Jalan Rusak, Uang Rakyat Dipertanyakan: FORMALIS Soroti Dugaan KKN dan Gratifikasi di Balik Proyek Miliaran Rupiah Bina Marga Lampung
Tegas…!, Parosil Minta Seluruh Kader PDI Perjuangan Lambar Aktif Turun ke Akar Rumput Bantu Masyarakat
Darlian Pone Kembalikan Formulir Pendaftaran Calon Ketua Golkar Way Kanan
Peringati Harlah ke-58, KOPRI Lampung Gandeng Pemerintah Provinsi Berantas Kekerasan Seksual
Momentum Hari Ibu, Kostiana Tegaskan Peran Besar Ibu sebagai Fondasi Awal Kehidupan
Kasus OTT Berujung Penetapan Tersangka Bupati Lampung Tengah: Yasir A. Rapat “Ini Aib Besar, Jangan Hancurkan Reputasi Lampung yang Sedang Diapresiasi KPK”
Lagi Bimtek, Oknum Anggota DPRD Lamteng Malah Dicokot KPK, Bupati, Sekda dan Oknum Kadis Infonya Turut Diperiksa di Mapolda Lampung
Kemendikti Saintek dan Komisi X DPR RI Edukasi Pencegahan Kekerasan di UBL
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:47 WIB

Ketika Buku Menjadi Mimpi Terakhir: Tragedi YBR Membuka Tabir

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:34 WIB

Laksanakan Musrenbang Hybrid Parosil Mabsus Tegaskan Akses Menuju Lokasi Pendidikan Menjadi Skala Perioritas 2027

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:31 WIB

Hadiri Rakornas 2026, Bupati–Wakil Bupati Lampung Barat Tegaskan Siap Jalankan Arahan Presiden Prabowo

Selasa, 3 Februari 2026 - 12:10 WIB

LP Penipuan Suami Anggota DPRD Lamsel Naik Penyidikan, Polisi Diminta Tetapkan Tersangka

Selasa, 3 Februari 2026 - 08:44 WIB

Mobil Camat Sukau Terlibat Kecelakaan Pemotor Tewas

Jumat, 30 Januari 2026 - 08:28 WIB

Desa Rantau Jaya Udik Bangun Jalan Telford dan TPT, Kades Agus Saleh Dorong Pemerataan Infrastruktur

Kamis, 29 Januari 2026 - 20:06 WIB

Laskar Lampung Ajak Seluruh Institusi Kompak Jalankan InGub “Kamis Beradat”

Rabu, 28 Januari 2026 - 13:51 WIB

Wasekjend PP GP Ansor Apresiasi Pelatihan Paralegal LBH Ansor Lampung

Berita Terbaru

BERITA

Mobil Camat Sukau Terlibat Kecelakaan Pemotor Tewas

Selasa, 3 Feb 2026 - 08:44 WIB

Exit mobile version