DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset, Fokus pada Pemulihan Kerugian Negara

- Redaksi

Jumat, 16 Januari 2026 - 07:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komisi III DPR RI mulai membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset pada Kamis (15/1) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Sari Yuliati mengatakan pembentukan RUU ini bertujuan memaksimalkan penegakan hukum terhadap berbagai tindak pidana, khususnya yang bermotif keuntungan finansial.

“Hari ini kita mulai pembentukan RUU tentang Perampasan Aset terkait dengan tindak pidana sebagai salah satu upaya memaksimalkan pemberantasan tindak pidana korupsi, terorisme, narkotika, serta tindak pidana lain dengan motif keuntungan finansial,” kata Sari dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Badan Keahlian DPR.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pemberian hukuman penjara semata, tetapi negara juga harus mampu memulihkan serta mengembalikan kerugian keuangan negara yang timbul akibat tindak pidana.

Baca juga:  Setelah Warga Lakukan Swadaya Pembuatan Jembatan Darurat, Plt Kadis PU Lambar Baru Muncul

Sari menambahkan, dalam proses pembentukan RUU ini, pihaknya akan membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya. Komisi III juga akan memulai pembahasan RUU tentang Hukum Acara Perdata (Haper) secara tersendiri.

Jenis Aset yang Dapat Dirampas

Kepala Badan Keahlian DPR RI Bayu Dwi Anggono mengungkapkan RUU Perampasan Aset mengatur secara rinci jenis-jenis aset yang dapat dirampas negara dari tindak pidana bermotif ekonomi, termasuk aset pribadi milik pelaku.

Bayu menyebutkan beberapa jenis aset yang dapat dirampas negara, di antaranya aset yang diduga digunakan atau telah digunakan sebagai sarana melakukan tindak pidana atau menghalangi proses peradilan, aset hasil tindak pidana, dan aset lain yang sah milik pelaku untuk membayar kerugian.

Baca juga:  Ketua DPRD Lampung Hadiri “Doa untuk Negeri” di Masjid Raya Al-Bakrie Lampung

“Misalnya kayu gelondongan di hutan atau barang selundupan di pelabuhan tidak resmi,” contohnya.

RUU ini terdiri dari 8 bab dan 62 pasal dengan 16 poin pokok pengaturan, meliputi ketentuan umum, ruang lingkup, aset tindak pidana yang dapat dirampas, hukum acara perampasan aset, pengelolaan aset, kerja sama internasional, pendanaan, dan ketentuan penutup.

Dua Model Perampasan Aset

Bayu menjelaskan RUU ini mengadopsi dua konsep perampasan aset, yaitu conviction based forfeiture dan non-conviction based forfeiture.

Conviction based forfeiture adalah perampasan aset berdasarkan putusan pidana yang telah inkrah terhadap pelaku. Konsep ini sudah ada dalam berbagai peraturan perundangan, meski tersebar di berbagai undang-undang.

Baca juga:  Rektor UIN Lampung Kukuhkan 298 Guru Profesional PPG PAI

Sedangkan non-conviction based forfeiture memungkinkan perampasan aset dilakukan meski pelaku tidak atau belum diproses pidana, dengan syarat dan kriteria tertentu. Konsep ini akan menjadi fokus utama dalam RUU tersebut.

Perampasan aset tanpa putusan pidana dapat dilakukan dalam kondisi tersangka atau terdakwa meninggal dunia, melarikan diri, sakit permanen, atau tidak diketahui keberadaannya; perkara pidananya tidak dapat disidangkan; atau terdakwa telah diputus bersalah dan di kemudian hari diketahui ada aset yang belum dirampas.

Perampasan aset tanpa putusan pidana juga harus memenuhi kriteria nilai aset paling sedikit Rp1 miliar.

Berita Terkait

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran
Gubernur Mirza Pimpin Rapat Pengembangan Ekonomi Daerah, Dorong Percepatan Pertumbuhan Ekonomi dan Dukung Target Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Jelang Sertijab Akhir Juni 2026, Danbrigif 4 BS Kolonel Marinir Supriadi Tarigan Pamit, Gubernur Mirza Beri Apresiasi atas Dedikasi dalam Mendukung Pembangunan Lampung
Sekdaprov Marindo Kurniawan Hadiri Rapat Paripurna DPRD terkait Perubahan Program Pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Lampung Tahun 2026
DPRD Lampung Komisi V Apresiasi SPMB 2026, Transparansi dan Sistem Real Time Dinilai Jadi Terobosan Dinas Pendidikan Yang Sukses
Sekdaprov Lampung: Belanja Wajib, Jadi Prioritas Utama APBD
Riza Fahlevi Resmi Nahkodai PKB Pesisir Barat Masa Bakti 2026–2031
Wagub Jihan Dorong IPM Lampung Jadi Pelopor Peningkatan SDM dan Pembangunan Daerah
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:00 WIB

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

Jumat, 12 Juni 2026 - 14:59 WIB

Gubernur Mirza Pimpin Rapat Pengembangan Ekonomi Daerah, Dorong Percepatan Pertumbuhan Ekonomi dan Dukung Target Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045

Jumat, 12 Juni 2026 - 14:49 WIB

Jelang Sertijab Akhir Juni 2026, Danbrigif 4 BS Kolonel Marinir Supriadi Tarigan Pamit, Gubernur Mirza Beri Apresiasi atas Dedikasi dalam Mendukung Pembangunan Lampung

Jumat, 12 Juni 2026 - 14:39 WIB

Sekdaprov Marindo Kurniawan Hadiri Rapat Paripurna DPRD terkait Perubahan Program Pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Lampung Tahun 2026

Kamis, 11 Juni 2026 - 14:28 WIB

Sekdaprov Lampung: Belanja Wajib, Jadi Prioritas Utama APBD

Kamis, 11 Juni 2026 - 13:47 WIB

Riza Fahlevi Resmi Nahkodai PKB Pesisir Barat Masa Bakti 2026–2031

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:46 WIB

Wagub Jihan Dorong IPM Lampung Jadi Pelopor Peningkatan SDM dan Pembangunan Daerah

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:43 WIB

Gubernur Lampung Dampingi Presiden Resmikan RSUD KH M Tohir Di Kabupaten Pesisir Barat

Berita Terbaru

BERITA

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

Jumat, 19 Jun 2026 - 14:00 WIB