“Ahmad Sahroni” Simbol Cermin Retak Bagi Seluruh Pejabat

- Redaksi

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 16:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Logo Diksi NusantaraAhmad Sahroni, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, telah menjadi poster boy kegagalan sistem representasi politik di Indonesia. Sosoknya merupakan cerminan nyata dari betapa rusaknya mental dan orientasi sebagian besar pejabat publik kita yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang amanah rakyat.

Sahroni bukan anomali, dia adalah produk sistemik dari kultur politik yang busuk.

Ahmad Sahroni telah menunjukkan pola perilaku yang tidak layak bagi seorang wakil rakyat, Arogansi dan sikap superior yang ditunjukkan dalam berbagai kesempatan publik, seolah-olah dia adalah raja yang tidak bisa dikritik, bukan pelayan rakyat yang dibayar dari pajak warga negara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah Ketidakmampuan dalam menjalankan fungsi legislasi secara optimal. Kontribusi nyata dalam pembuatan undang-undang yang pro-rakyat sangat minim, namun kemampuan untuk mencari perhatian media sangat tinggi, Orientasi politik yang lebih fokus pada personal branding ketimbang public service. Dia lebih sibuk membangun citra personal daripada memperjuangkan aspirasi konstituennya.

Sahroni merepresentasikan gaya kepemimpinan toxic yang sayangnya menjadi trend di kalangan elite politik Indonesia:

  • Otoriter dalam bersikap namun lemah dalam berargumen
  • Reaktif terhadap kritik namun tidak responsif terhadap aspirasi rakyat
  • Gemar mencari panggung namun kabur saat diminta pertanggungjawaban
  • Kaya retorika politik namun miskin solusi konkret
Baca juga:  Wakil Ketua DPD Papera: Pemberitaan Insiden di Lamsel Diduga Langgar Kode Etik Jurnalistik

Kasus Ahmad Sahroni menunjukkan fundamental failure dalam sistem rekrutmen politik Indonesia. Bagaimana mungkin seseorang dengan mental dan karakter yang questionable bisa lolos menjadi wakil rakyat di lembaga tertinggi negara?

Ini membuktikan bahwa sistem kepartaian kita masih mengutamakan koneksi, uang, dan elektabilitas semu ketimbang integritas dan kapabilitas.

Partai NasDem harus bertanggung jawab penuh atas kegagalan quality control internal mereka. Bagaimana mungkin partai yang mengklaim sebagai partai perubahan malah melahirkan figur-figur yang justru memperkuat status quo politik yang busuk?

NasDem telah gagal dalam misi utama mereka untuk melahirkan generasi baru politik Indonesia.

Figur seperti Ahmad Sahroni berkontribusi langsung pada erosi kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi. Rakyat menjadi semakin apatis dan sinis terhadap politik karena melihat wakil mereka yang tidak berkualitas.

Kehadiran figur-figur seperti Sahroni di panggung politik menurunkan kualitas diskursus politik nasional. Debat publik menjadi tidak substansial, penuh dengan argumentum ad hominem, dan jauh dari pemecahan masalah riil rakyat.

Baca juga:  Bambang Kusmanto Sampaikan Pandangan Umum Fraksi "ADEM" di Paripurna DPRD Lampung Barat

Yang paling berbahaya, sosok seperti Ahmad Sahroni menormalisasi perilaku buruk dalam politik. Ketika arogansi, insensitivitas, dan ketidakprofesionalan tidak mendapat sanksi sosial yang keras, maka perilaku serupa akan terus bermunculan.

Ingatlah, Anda duduk di kursi itu bukan karena kehebatan personal, tapi karena amanah rakyat. Setiap keputusan yang Anda buat, setiap sikap yang Anda tunjukkan, akan dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada atasan politik, tapi kepada 150 juta pemilih yang telah memberikan mandat kepada Anda.

Ahmad Sahroni adalah warning sign bagi Anda semua, Jangan sampai menjadi seperti dia, arogan, tidak produktif, dan jauh dari rakyat.

Untuk para pejabat di daerah, Jangan merasa aman hanya karena Anda berada di daerah dan jauh dari sorotan media nasional. Rakyat daerah sama kritisnya dengan rakyat di ibu kota. Mereka juga bisa melihat dan menilai kinerja Anda.

Kasus Ahmad Sahroni adalah pembelajaran, Cepat atau lambat, pejabat yang tidak amanah akan terungkap dan mendapat hukuman sosial yang setimpal.

Evaluasi diri segera! Apakah Anda sudah menjalankan tugas dengan integritas? Apakah Anda masih ingat sumpah jabatan yang pernah Anda ucapkan? Ataukah Anda sudah terjebak dalam comfort zone kekuasaan yang membuat lupa akan tanggung jawab?

Baca juga:  Demokrasi Indonesia di Ujung Tanduk: Saatnya Reformasi Total

Perbaiki sistem rekrutmen! Hentikan praktik mencalonkan figur berdasarkan popularitas semu, koneksi, atau kemampuan finansial. Prioritaskan integritas, kapabilitas, dan komitmen pada kepentingan rakyat.

Ayo Terus awasi dan kritisi perilaku para pejabat publik. Jangan biarkan figur-figur seperti Ahmad Sahroni merasa nyaman dengan ketidakprofesionalan mereka. Berikan sanksi sosial yang keras bagi setiap perilaku yang tidak pantas.

Dan kita sebagai rakyat, Jangan apatis! Terus bersuara dan berpartisipasi dalam mengawasi kinerja wakil-wakil Anda. Ingat nama-nama pejabat yang tidak amanah seperti Ahmad Sahroni, dan pastikan mereka tidak mendapat kesempatan kedua untuk mengkhianati amanah rakyat.

Ahmad Sahroni adalah wake-up call bagi sistem politik Indonesia. Dia menunjukkan betapa urgentnya reformasi total dalam rekrutmen, seleksi, dan pengawasan pejabat publik.

Rakyat Indonesia layak mendapat representasi yang lebih baik dari sosok seperti Ahmad Sahroni.

Saatnya pembersihan! Saatnya perubahan! Saatnya melahirkan generasi baru pejabat publik yang benar-benar mengabdi pada rakyat!

Berita Terkait

Dari Menghafal ke Berdialog: Tantangan Pendidikan Demokrasi di Indonesia
UU PRT: Akhir Penantian Dua Dekade yang Belum Usai
KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Dinamika Politik
Jaga Stabilitas Harga dan Kualitas Pangan, Pemprov Lampung Intensifkan Pengawasan Pasar
Tahta Tanpa Wingman: Tragedi Komedi Kepemimpinan di Kabupaten Way Kanan
Pelatihan Paralegal LBH Ansor Lampung Dinilai Langkah Strategis Pendidikan Hukum
Lelah Menunggu Pemerintah, Warga Triharjo Cor Jalan Swadaya untuk Kelima Kalinya
Broken Strings : Memahami Grooming Sebagai Kejahatan, Bukan Relasi Pribadi
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:45 WIB

Relawan Gesit Lampung Rayakan Milad Pertama dengan Family Gathering di Pantai Cakra Pesawaran

Senin, 27 April 2026 - 11:46 WIB

Sinergi Putera Daerah: Lampung Preneur Hub Perkuat Basis Kebijakan Ekonomi Bersama Zulkifli Hasan

Minggu, 26 April 2026 - 16:28 WIB

Pesta Rakyat Meriah, tapi Warga Lampung Timur Tanya: Kapan Jalan Diperbaiki dan Siltap Dibayar?

Sabtu, 25 April 2026 - 15:35 WIB

GRL Way Kanan Perkuat Pembinaan Atlet Muda Lewat KAKIMAL Cup 2026

Jumat, 24 April 2026 - 16:59 WIB

Tambah Armada dan Tank Container, DLH Bandar Lampung Perkuat Pengelolaan Sampah 2026

Kamis, 16 April 2026 - 06:42 WIB

INFORMASI KEHILANGAN

Rabu, 15 April 2026 - 06:47 WIB

DPC Laskar Lampung Indonesia dan Holland Bakery Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Bandar Lampung

Sabtu, 11 April 2026 - 06:43 WIB

Mekhanai Kebandakhan Tjindar Bumi Raih Predikat Mekhanai Intelegensia pada Grand Final Muli Mekhanai Lampung Selatan

Berita Terbaru

POLITIK

UU PRT: Akhir Penantian Dua Dekade yang Belum Usai

Selasa, 28 Apr 2026 - 11:41 WIB