Refleksi di Tengah Dinamika Zaman “Dimana PMII..?”

- Redaksi

Senin, 11 Agustus 2025 - 10:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kritik dan Otokritik PMII: Refleksi di Tengah Dinamika Zaman

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan yang telah berusia lebih dari lima dekade, kini menghadapi tantangan kompleks di era digital dan perubahan sosial yang begitu cepat. Momentum ini menuntut organisasi untuk melakukan evaluasi mendalam, baik dari sisi internal maupun eksternal.

Kritik Eksternal: Relevansi di Era Digital

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

PMII perlu mengkritisi sejauh mana organisasi mampu beradaptasi dengan dinamika generasi Z yang lebih terkoneksi secara digital namun paradoksnya sering kali terfragmentasi secara ideologis. Kritik yang sering muncul adalah soal metode dakwah dan perjuangan yang masih konvensional, sementara isu-isu kontemporer seperti krisis iklim, kesenjangan digital, dan polarisasi politik membutuhkan pendekatan yang lebih inovatif dan inklusif.

Baca juga:  Kasus OTT Berujung Penetapan Tersangka Bupati Lampung Tengah: Yasir A. Rapat “Ini Aib Besar, Jangan Hancurkan Reputasi Lampung yang Sedang Diapresiasi KPK”

Selain itu, PMII juga perlu mengkaji ulang posisinya dalam lanskap politik nasional. Apakah organisasi masih mampu menjadi agen perubahan yang independen, atau justru terjebak dalam pragmatisme politik praktis yang mengaburkan idealisme perjuangan?

Otokritik Internal: Kaderisasi dan Konsistensi

Secara internal, PMII perlu melakukan otokritik terhadap sistem kaderisasi yang mungkin belum optimal dalam mencetak pemimpin masa depan. Pertanyaan kritis yang harus dijawab: apakah kader-kader PMII sudah cukup dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, tidak hanya terhadap isu-isu keislaman, tetapi juga terhadap kompleksitas permasalahan sosial kontemporer?

Konsistensi antara nilai-nilai yang diajarkan dengan praksis organisasi juga menjadi catatan penting. PMII yang mengusung semangat keadilan sosial dan pemberdayaan rakyat harus terus mengevaluasi apakah gerakan-gerakan yang dilakukan benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat kecil, atau justru terjebak dalam kepentingan elit tertentu.

Baca juga:  Antara Retorika dan Realitas Kemiskinan Ditengah Ketimpangan

Tantangan dan Peluang

Di tengah tantangan ini, PMII sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat: jaringan nasional yang luas, tradisi intelektual yang kaya, dan basis massa yang loyal. Namun, modal ini akan menjadi sia-sia jika tidak diiringi dengan transformasi organisasi yang progresif.

PMII perlu berani melakukan terobosan, seperti mengintegrasikan teknologi dalam sistem dakwah dan perjuangan, membangun dialog lintas generasi yang lebih intensif, serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk yang berada di luar mainstream Islam.

Baca juga:  PMII dan Tantangan Era Digital, "Mengendalikan atau Dikendalikan"

Rekomendasi Strategis

Pertama, PMII perlu memperkuat literasi digital dan media sosial untuk menjangkau generasi muda yang lebih luas. Kedua, organisasi harus berani mengambil posisi tegas terhadap isu-isu kontroversial dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip keislaman yang moderat dan inklusif. Ketiga, sistem kaderisasi perlu direformasi dengan memasukkan kurikulum yang lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman.

PMII memiliki potensi besar untuk tetap menjadi kekuatan progresif dalam pergerakan mahasiswa Indonesia. Namun, hal ini hanya dapat terwujud jika organisasi berani melakukan introspeksi mendalam dan transformasi yang menyeluruh, tanpa kehilangan jati diri sebagai gerakan Islam yang moderat dan nasionalis.

Berita Terkait

Pilkada Melalui DPRD: Kemunduran Demokrasi Yang Mengkhawatirkan, Hak Rakyat Mulai Dikebiri
Apresiasi Alumni terhadap Kepemimpinan Visioner Prof. Wan Jamaluddin di UIN Raden Intan Lampung
JALAN BARU GERAKAN RAKYAT : DARI KESADARAN OBJEK MENUJU KESADARAN SUBJEK
Efisiensi atau Pembajakan Mandat? Polemik Pilkada via DPRD
Bencana Sumatera 2025: Pertobatan Ekologis sebagai Imperatif Transformasi
Kasus OTT Berujung Penetapan Tersangka Bupati Lampung Tengah: Yasir A. Rapat “Ini Aib Besar, Jangan Hancurkan Reputasi Lampung yang Sedang Diapresiasi KPK”
Ganjar Jationo : “Sosok Tepat Jaga Stabilitas Informasi dan Komunikasi Pemerintah Lampung”
Prof. Wan Jamaluddin “Kesatuan Kata dan Kerja”
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 14:27 WIB

Hadiri Pelantikan BKOW, DPRD Lampung IKAD Tegaskan Dukung Penguatan Peran Perempuan

Selasa, 20 Januari 2026 - 12:06 WIB

Anggota DPRD Lampung Andika Wibawa Akan Kawal 89.286 Peserta BPJS PBI 2026

Selasa, 20 Januari 2026 - 11:57 WIB

Pesangon Rp480 Juta Tak Dibayarkan, Didampingi LBH Ansor Eks Karyawan Koperasi Kekar Mengadu ke DPRD Lampung

Selasa, 20 Januari 2026 - 06:20 WIB

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal Evaluasi Program MBG

Senin, 19 Januari 2026 - 14:19 WIB

Komisi IV DPRD Lampung Optimistis Target 85% Jalan Mantap Tercapai di 2026

Senin, 19 Januari 2026 - 12:57 WIB

Pemprov Lampung Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk Capai Target PAD 2026

Senin, 19 Januari 2026 - 12:22 WIB

Wagub Jihan Serahkan Dana Bumbung Kemanusiaan kepada Kwarnas Pramuka, Wujud Keberlanjutan Kepedulian untuk Korban Bencana Sumatera

Senin, 19 Januari 2026 - 12:17 WIB

DPRD Lampung Minta Kejelasan Pelaksanaan Koperasi Desa Merah Putih

Berita Terbaru

BERITA

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal Evaluasi Program MBG

Selasa, 20 Jan 2026 - 06:20 WIB